ON FLEEK X DIBUAHI “Varian Baru Covid-19 Delta Plus di India, Indonesia Wajib Apa?”

Diskusi Bareng Hati HI (Dibuahi) ialah sebuah proker yang diusung oleh Bidang Keilmuan dan HMPS HI Undip yang dijalankan setiap-setiap dua bulan sekali. Pada edisi bulan ini, DIBUAHI berkolaborasi dengan On Fleek (Friday Leap’s Evening Talk) yang ialah aktivitas diskusi publik yang diselenggarakan oleh Departemen Kastrat KM FISIP UAI.

Kolaborasi ini mengangkat tema “Varian Baru Covid-19 Delta Plus di India, Indonesia Wajib Apa?” yang membahas perkembangan varian Delta Plus Covid-19 serta dampak dan sikap Indonesia dalam menghadapinya. Acara yang digelar pada Jumat (13/8/2021) melewati platform Zoom Meeting ini ikut serta mengundang slot gacor hari ini seorang pakar, Prof. Juhaeri Muchtar, Ph.D., Vice President and Head, Epidemiology and Benefit-Risk di Sanofi.

Diskusi ini diantar dengan tiga poin pertanyaan yang menarik. Pertama, dengan berjenis-jenis pro dan kontra yang hadir di masyarakat dampak kebijakan PPKM, apakah hal hal yang demikian masih terbilang ideal target dalam melawan pandemi dan bila tidak, kebijakan konkret apa yang wajib dikerjakan? Dari hasil diskusi, para peserta berpendapat bahwa PPKM masih kurang ideal target dikarenakan kurangnya transparansi data. PPKM baru bisa dikatakan ideal target bila dikerjakan secara bertahap dan didorong bidang lainnya seperti pendidikan dan ekonomi.

Tapi demikian, data bukanlah tolok ukur ideal target atau tidaknya satu kebijakan. Dalam hal ini, Prof. Juhaeri Muchtar, Ph.D. selaku narasumber menanggapi dengan mengatakan bahwa akurasi data penting dikerjakan untuk menanggapi kabar, umpamanya dalam stabilitas nasional di masa pandemi oleh PPKM.

Secara garis besar, kajian terhadap aspek-aspek lain seperti ekonomi memang penting dikerjakan. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat perlu adaptif, kontributif, dan kolaboratif.

Selanjutnya, diskusi membahas mengenai dampak varian Delta Plus Covid-19 ini bagi Indonesia dalam berjenis-jenis aspek dan imbasnya terhadap posisi Indonesia di ranah internasional. Pada sesi ini, peserta setuju bahwa sosialisasi oleh pemerintah masih belum menyeluruh dan perlu ditingkatkan lagi. Kemudian, perlu adanya peningkatan pada budaya literasi agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks. Mahasiswa malahan dapat ikut serta berkontribusi, salah satunya dengan kampanye media sosial.

Menurut Prof. Juhaeri, dampak dari vaksinasi cukup krusial. Menanggapi hal hal yang demikian, penting untuk memperhatikan aspek komunikasi sehingga info dapat tersampaikan dengan akurat, konsisten, dan tidak menimbulkan dampak negatif, termasuk dalam topik minimnya minat vaksinasi Covid-19. Mahasiswa perlu memiliki sikap yang benar-benar teliti, berkontribusi secara maksimal, dan meningkatkan komunikasi.

Pada poin terakhir dari diskusi, peserta mempersembahkan pendapat mereka terkait tindakan pemerintah terhadap melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia dan upaya sebagai mahasiswa dalam menanggapi hal hal yang demikian. Menurut peserta, berdasarkan VOX EU, adanya penguasaan aktivitas dinilai cukup ideal target dalam mengurangi penyebaran virus. Tapi, di sisi lain, penguasaan ini mengakibatkan sejumlah dampak pada perekonomian dan psiko-sosiologis.

Keberadaan pandemi Covid-19 juga menimbulkan berjenis-jenis penyesuaian pada dinamika hubungan internasional, terlebih peningkatan kerja sama dalam rangka menanggulangi krisis global yang ada. Salah satunya diamati dari upaya bersama negara-negara G-20 dalam menyokong G20 Action Plan guna menghadapi krisis yang diakibatkan Covid-19 sebagai referensi respon kebijakan untuk memitigasi dampak wabah Covid-19. Sebab kalau menilik kondisi slot888 dikala ini, negosiasi Indonesia mengarah pada bidang medis, seperti negosiasi terkait vaksin, peralatan kesehatan, obat-obatan, dan perlindungan WNI yang berada di luar negeri.

Tindakan yang dikerjakan pemerintah bisa dibilang sudah baik, hanya saja masih kurang ideal target dalam sistem kerjanya. Benar bahwa penguasaan sungguh-sungguh diperlukan untuk menekan arus mobilisasi, tetapi sayangnya kebijakan hal yang demikian tidak dibarengi dengan pendampingan bagi masyarakat kecil yang terdampak secara ekonomi, terpenting bagi mereka yang tidak bisa menjalankan WFH.

Memperhatikan hal hal yang demikian, peserta berpendapat bahwa masyarakat yang memiliki privilese untuk bekerja dan belajar dari rumah perlu menaati PPKM dengan sebaik-bagusnya agar kasus Covid-19 cepat menurun sehingga pemerintah tidak perlu lagi mengeluarkan kebijakan PPKM berlevel-tingkatan yang nantinya malahan akan menyulitkan masyarakat kecil. Dalam hal ini, mahasiswa juga perlu turun tangan dengan menjalankan beberapa aksi seperti optimalisasi 5M, kampanye, serta bantuan secara menyeluruh dan bertahap kepada sesama masyarakat.

Mengenai diskusi pada poin terakhir, pihak narasumber beserta Bapak Prof. Dr. Ir Asep Saefuddin, M.Sc. selaku rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, berpendapat bahwa secara garis besar kebijakan ini masih belum maksimal. Oleh karenanya, perlu untuk menghubungkan antara optimalisasi vaksinasi, peran kepatuhan masyarakat, kontribusi mahasiswa, dengan tetap memperhatikan pemerataan jangkauan yang wajib dipenuhi dalam penanganan pandemi Covid-19, dan lain-lain.

Salah satu wujud kontribusi dalam percepatan penanganan Covid-19 yaitu memakai protokol kesehatan dan mematuhi kebijakan pemerintah. Meski masih terdapat beberapa kekurangan, seperti keterbatasan fasilitas oleh pemerintah, seyogianya tetap ditanggapi dengan bijak. Singkatnya, dengan slot demo wild west gold tidak membuat konten yang provokatif sehingga masih terjaga dalam kondisi disruptif pada masa pandemi Covid-19.